Minggu, 20 September 2015

Kisah Nyata Curahan Hati Kehilangan Nenek Tercinta



Ini adalah kisah nyata yang kutulis 17 September 2013 berdasarkan curahan hati adik bungsuku yang kini sudah Kelas 1 SMU, doakan suatu saat aku siap menulis kebersamaan, kenangan, kebahagiannku bersama beliau seorang yang dalam pandanganku adalah gambaran Malaikat Tuhan dalam dunia ini, karena beliau aku bisa seperti sekarang ini, salam sayangku Nenek Buyutku Hana Saridjah, aku beriman kau disana bahagia.

 

Inilah Kisah Nyata "Terakhir Melihatnya"


Waktu berlalu begitu cepat saat kurasakan masa-masa SMP, kini ku Kelas IX dan pahit getir cobaan waktu itu kudapatkan ketika ku duduk dibangku kelas VIII hal yang tak pernah ku duga-duga tiba-tiba saja hadir.

Ketika malam itu ku asyik melihat televisi ibu memanggilku “Ci...Ci!” teriak ibu, kujawab “Ada apa bu?”, “Bawakan makanan ini ke kamar nenek” perintah ibu, nenek memang tinggal bersama ibu dan bapakku cukup lama, jadi aku kecil hingga besar bersama-sama dengannya. Teman bagiku adalah nenekku, bermain, bercanda dan tawa bersama sering kami lakukan bersama untuk mengisi waktu luang. Ketika malam hari menjelang neneklah yang menemaniku tidur dan memanjakanku dengan kasih sayang, tapi.................

Itu tak mungkin lagi dapat kurasakan bersamanya. Ketika ibu menyodorkan makanan untuk nenek segera saja ku bawa makanan itu tapi apa yang ku dapatkan....nenek mendesah kesakitan sambil memegang perutnya, nenek memang sudah tua umurnya sudah 99 tahun, ku kira nenek hanya sakit biasa, ternyata tidak, kudapati tubuhnya lemas dan pucat. Segera saja ku pegang kedua tangannya, kupapah untuk masuk kedalam kamar karena waktu itu nenek sedang berada didepan kamar menikmati indahnya malam. Aku berteriak sekuat tenaga memanggil ibu, “Ibu...ibu...!”, dari dalam ibu berlari menolongku memapah nenek untuk berbaring ditempat tidur. Sakit yang kukira hanya sakit biasa ternyata itu berujung duka. 

Pagi hari aku bersiap untuk berkemas-kemas berangkat sekolah, kusempatkan untuk menengok kamar nenek, yang kulihat saat itu nenek terlihat kesakitan dan badanya membujur kaku tak bisa digerakkan, kusempatkan membawakan secangkir teh hangat dan memberikan kepada nenek, kutinggalkan nenek dengan mencium dahinya, nenek berkata “Jaga dirimu baik-baik cucuku”. Hanya dengan menitikkan air mata didepan pintu kamar nenek. Segera saja aku berpamitan kepada orang tua untuk pergi ke Sekolah.

Sesampai di Sekolah yang kupikirkan hanyalah kesehatan nenek, entah apa yang akan Tuhan kerjakan untuk keluargaku ini. Aku selalu berdoa dan berharap agar diberi kesembuhan bagi nenek. Usai pelajaran aku bergegas untuk pulang. Sesampai di rumah aku membersihkan diri untuk melakukan aktivitas, tak lupa merawat nenekku terlebih dahulu. Aku sempat marah dan kesal kepada kakak, karena hanya aku dan aku yang harus merawat nenek, sedangkan dia aman bisa menyuruh-nyuruh aku. “Dek...!”, “Ada apa kak?”, “Itu rawat nenekmu”, “Aku capek setiap hari harus merawatnya, la kamu aja kenapa kak, kok tidak mau merawat, gantian to!”, aku debat kusir dengan kakak karena keegoisanku. Seketika aku kesal, kubaringkan badanku hingga tertidur malam hari. 

Sayup-sayup aku dengar sebuah panggilan yang memanggilku sebanyak 3 kali “Ci...Ci...Ci...”, saat kudengar dengan cermat itu adalah suara lemah nenek, tapi...aku acuhkan karena aku capek dan masih kesal gara-gara debat kusir dengan kakak kemarin Aku melanjutkan tidurku yang tertunda, saat kubuka mata waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, kudengar suara tangisan, aku berusaha mengenali suara itu yang tak lain suara tangisan ibuku, kenapa ibu menangis di kamar nenek?, pertanyaan muncul di kepalaku, penuh tanda tanya kulangkahkan kaki ke kamar nenek, dan kudapati nenek sudah menghembuskan nafas terakhir beliau, nenek sudah dipanggil Tuhan, mata nenek telah tertutup, beliau yang biasanya bungkuk dan tidur miring kini tangan bersilang di dadanya dan kakinya lurus. Dengan keadaanku yang masih mengantuk dan setengah tak percaya aku berusaha berlari memeluk dan mendekap nenek, dipagi yang indah ini aku hanya bisa menitikkan air mata, aku tersedu-sedu, aku sangat menyesal, kenapa aku tidak mau merespon panggilan nenek pagi tadi, betapa bodohnya aku, egoisnya aku. Sambil mencium dahi nenek aku merintih membisikkan kata yang kutau nenek tak bisa lagi menjawabnya “Maafkan aku nek, aku tidak menemani saat terakhir engkau pergi”.

Saudara-saudara berdatangan ke rumah, haru pilu menyelimuti keluargaku, sesudah almarhumah dimandikan kuberanikan diri untuk mengenakan pakaiannya yang terakhir, nenek terlihat seperti tertidur lelap dan nyenyak tanpa dengkuran di dalam kotak panjang, setelah kotak dihias dan ditutup, kotak itu dibawa oleh beberapa orang dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan untuk terakhir kali aku melihat nenek sebelum akhirnya dikebumikan, diatasnya ditaruh nisan bertuliskan namanya, ditaburi aneka bunga dan diiringi doa kami semua yang sangat menyayanginya.


Selamat jalan nenek 

Kan kuingat wajahmu dan kenangan indah bersamamu”.