Ini adalah kisah nyata yang kutulis 17 September 2013 berdasarkan curahan hati adik bungsuku yang kini sudah Kelas 1 SMU, doakan suatu saat aku siap menulis kebersamaan, kenangan, kebahagiannku bersama beliau seorang yang dalam pandanganku adalah gambaran Malaikat Tuhan dalam dunia ini, karena beliau aku bisa seperti sekarang ini, salam sayangku Nenek Buyutku Hana Saridjah, aku beriman kau disana bahagia.
Inilah Kisah Nyata "Terakhir Melihatnya"
Waktu berlalu begitu cepat saat
kurasakan masa-masa SMP, kini ku Kelas IX dan pahit getir cobaan waktu itu kudapatkan
ketika ku duduk dibangku kelas VIII hal yang tak pernah ku duga-duga tiba-tiba
saja hadir.
Ketika
malam itu ku asyik melihat televisi ibu memanggilku “Ci...Ci!” teriak ibu,
kujawab “Ada apa bu?”, “Bawakan makanan ini ke kamar nenek” perintah ibu, nenek
memang tinggal bersama ibu dan bapakku cukup lama, jadi aku kecil hingga besar
bersama-sama dengannya. Teman bagiku adalah nenekku, bermain, bercanda dan tawa
bersama sering kami lakukan bersama untuk mengisi waktu luang. Ketika malam
hari menjelang neneklah yang menemaniku tidur dan memanjakanku dengan kasih
sayang, tapi.................
Itu tak mungkin lagi dapat
kurasakan bersamanya. Ketika ibu menyodorkan makanan untuk nenek segera saja ku
bawa makanan itu tapi apa yang ku dapatkan....nenek mendesah kesakitan sambil
memegang perutnya, nenek memang sudah tua umurnya sudah 99 tahun, ku kira nenek
hanya sakit biasa, ternyata tidak, kudapati tubuhnya lemas dan pucat. Segera
saja ku pegang kedua tangannya, kupapah untuk masuk kedalam kamar karena waktu
itu nenek sedang berada didepan kamar menikmati indahnya malam. Aku berteriak
sekuat tenaga memanggil ibu, “Ibu...ibu...!”, dari dalam ibu berlari menolongku
memapah nenek untuk berbaring ditempat tidur. Sakit yang kukira hanya sakit
biasa ternyata itu berujung duka.
Pagi hari aku bersiap untuk
berkemas-kemas berangkat sekolah, kusempatkan untuk menengok kamar nenek, yang
kulihat saat itu nenek terlihat kesakitan dan badanya membujur kaku tak bisa
digerakkan, kusempatkan membawakan secangkir teh hangat dan memberikan kepada
nenek, kutinggalkan nenek dengan mencium dahinya, nenek berkata “Jaga dirimu
baik-baik cucuku”. Hanya dengan menitikkan air mata didepan pintu kamar nenek.
Segera saja aku berpamitan kepada orang tua untuk pergi ke Sekolah.
Sesampai di Sekolah yang
kupikirkan hanyalah kesehatan nenek, entah apa yang akan Tuhan kerjakan untuk
keluargaku ini. Aku selalu berdoa dan berharap agar diberi kesembuhan bagi
nenek. Usai pelajaran aku bergegas untuk pulang. Sesampai di rumah aku
membersihkan diri untuk melakukan aktivitas, tak lupa merawat nenekku terlebih
dahulu. Aku sempat marah dan kesal kepada kakak, karena hanya aku dan aku yang
harus merawat nenek, sedangkan dia aman bisa menyuruh-nyuruh aku. “Dek...!”, “Ada
apa kak?”, “Itu rawat nenekmu”, “Aku capek setiap hari harus merawatnya, la
kamu aja kenapa kak, kok tidak mau merawat, gantian to!”, aku debat kusir
dengan kakak karena keegoisanku. Seketika aku kesal, kubaringkan badanku hingga
tertidur malam hari.
Sayup-sayup aku dengar sebuah
panggilan yang memanggilku sebanyak 3 kali “Ci...Ci...Ci...”, saat kudengar
dengan cermat itu adalah suara lemah nenek, tapi...aku acuhkan karena aku capek
dan masih kesal gara-gara debat kusir dengan kakak kemarin Aku melanjutkan
tidurku yang tertunda, saat kubuka mata waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, kudengar
suara tangisan, aku berusaha mengenali suara itu yang tak lain suara tangisan
ibuku, kenapa ibu menangis di kamar nenek?, pertanyaan muncul di kepalaku,
penuh tanda tanya kulangkahkan kaki ke kamar nenek, dan kudapati nenek sudah
menghembuskan nafas terakhir beliau, nenek sudah dipanggil Tuhan, mata nenek
telah tertutup, beliau yang biasanya bungkuk dan tidur miring kini tangan
bersilang di dadanya dan kakinya lurus. Dengan keadaanku yang masih mengantuk
dan setengah tak percaya aku berusaha berlari memeluk dan mendekap nenek,
dipagi yang indah ini aku hanya bisa menitikkan air mata, aku tersedu-sedu, aku
sangat menyesal, kenapa aku tidak mau merespon panggilan nenek pagi tadi,
betapa bodohnya aku, egoisnya aku. Sambil mencium dahi nenek aku merintih
membisikkan kata yang kutau nenek tak bisa lagi menjawabnya “Maafkan aku nek,
aku tidak menemani saat terakhir engkau pergi”.

Saudara-saudara berdatangan ke
rumah, haru pilu menyelimuti keluargaku, sesudah almarhumah dimandikan
kuberanikan diri untuk mengenakan pakaiannya yang terakhir, nenek terlihat
seperti tertidur lelap dan nyenyak tanpa dengkuran di dalam kotak panjang,
setelah kotak dihias dan ditutup, kotak itu dibawa oleh beberapa orang dan
dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan untuk terakhir kali aku melihat nenek
sebelum akhirnya dikebumikan, diatasnya ditaruh nisan bertuliskan
namanya, ditaburi aneka bunga dan diiringi doa kami semua yang sangat menyayanginya.
“Selamat jalan nenek
Kan kuingat wajahmu
dan kenangan indah bersamamu”.